Jumat, 15 Januari 2016

Desain dan struktur organisasi


Dimensi Struktur Organisasi

Empat desain keputusan (pembagian kerja, pendelegasian kewenangan, pembagian departemen, dan rentang kendali) menghasilkan struktur organisasi, Para peneliti dan praktisi manajemen berusaha untuk mengembangan pemahaman mengenai hubungan antar struktur dan kinerja, sikap, keefektifan, dan variabel lainnya. Secara umum, gambaran mengenai struktur meliputi formalisasi, sentralisasi, dan kerumitan.

Formalisasi
Formalisasi mengacu derajat dimana segala harapan mengenai cara dan tujuan pekerjaan dirumuskan, ditulis dan diberlakukan. Suatu organisasi yang sangat formal, akan memuat prosedur dan aturan yang ketat dalam setiap kegiatan / pekerjaan di dalam organisasi. Dengan demikian, semakin formal suatu organisasi, maka semakin ketat pula aturan dan prosedur kerja. Formalisasi merupakan hasil dari spesialisasi kerja yang tinggi, pendelegasian kewenangan yang tinggi, pembagian departemen berdasarkan fungsi, dan luasnya rentang kendali.

Sentralisasi
Sentralisasi merupakan dimensi struktur organisasi yang mengacu pada derajat dimana kewenangan untuk mengambil keputusan dikuasai oleh manajemen puncak. Hubungan sentralisasi dengan empat desain keputusan adalah sebagai berikut : Semakin tinggi spesialisasi kerja, semakin besar sentralisasi, Semakin sedikit kewenangan yang didelegasikan, semakin besar sentralisasi, Semakin besar penggunaan departemen berdasarkan fungsi, semakin besar sentralisasi, Semakin luas rentang kendali, semakin besar sentralisasi.

Kerumitan
Kerumitan (complexity) adalah suatu struktur organisasi yang mengacu pada jumlah pekerjaan atau unit yang berbeda dalam organisasi.

Departementalisasi

Adalah proses penentuan cara bagaimana kegiatan yang dikelompokkan.
Beberapa pendekatan dalam Departementalisasi yaitu :
•         Berdasarkan Fungsional
•         Berdasarkan Produk
•         Berdasarkan Pelanggan
•         Berdasarkan Geografis
•         Berdasarkan Matriks

Departementalisasi berdasarkan Fungsi
Pada pembagian ini orang yang memiliki fungsi yang terikat dikelompokkan menjadi satu. Umum terjadi pada organisasi kecil dengan sumber daya terbatas dengan produksi lini produk yang tidak banyak. Biasanya dibagi dalam bagian keuangan, pemasaran, umum, produksi, dan lain sebagainya.



Kelebihan: kerja lebih efisien, pengawasan menjadi lebih mudah.

Kekurangan: sulit mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kegiatan yang berbeda, pertanggung jawaban menjadi kurang jelas.

Departementalisasi berdasarkan Produk

Pada jenis departementalisasi ini orang-orang atau sumber daya yang ada dibagi ke dalam departementalisasi menurut fungsi serta dibagi juga ke dalam tiap-tiap lini produk, wilayah geografis, menurut jenis konsumen, dan lain sebagainya.



Kelebihan: pengambilan keputusan menjadi semakin cepat, koordinasi menjadi lebih mudah, dan pertanggungjawaban jelas.

Kekurangan: biaya operasional meningkat, duplikasi kegiatan/fungsi, pandangan sempit yang mengutamakan divisi/bagiannya.


Departementalisasi berdasarkan Pelanggan




Departementalisasi berdasarkan Geografis
Pada jenis departementalisasi ini wilayah dibagi ke dalam Departementalisasi,
Di mulai dari Manajer Pemasaran, dan di bagi menjadi 2, yaitu bagian penjualan dan bagian promosi. Kedua bagian ini lalu menyalurkan ke setiap wilayah.



Departementalisasi berdasarkan Matriks 


Bentuk organisasi matriks marupakan gabungan dari departementalisasi menurut fungsional dan departementalisasi menurut proyek. Seorang pegawai dapat memiliki dua posisi baik secara fungsi maupun proyek sehingga otomatis akan memiliki dua atasan / komando ganda. Proyek biasanya diadakan secara tidak menentu dan sifatnya tidak tetap.


Model-model Desain Struktur Organisasi
Ada dua model ekstrem dari desain organisasi, yaitu
  • Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
  • Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
Berikut ini adalah salah satu contoh struktur organisasi milik PT KCJ


Struktur organisasi yang dimiliki oleh PT KCJ mengadopsi  sistem departementalisasi berdasarkan fungsional, dimana pada struktur organisasi ini , pembagian tugas telah dikelompokkan per divisi guna mempermudah melaksanakan tugas yang sesuai dengan divisi tersebut. Memang dalam menjalankan tugas per divisi seperti ini mempermudah untuk mencapai tujuan masing-masing, tetapi sepertinya agak sulit untuk berkoordinasi antar divisi jika terjadi sesuatu yang memang harus melibatkan dua divisi yang berbeda atau lebih, karena biasanya per divisi ini mempunyai prosedur yang berbeda-beda dalam menjalankan tugasnya.


Keterlambatan Jadwal Perjalanan Commuter Line, Apa Penyebabnya?

Stasiun Bogor

       Commuter Line, adalah salah satu moda transportasi umum di DKI Jakarta berbasis angkutan kereta rel listrik (KRL). Angkutan ini telah ada sejak 7 tahun yang lalu. Kini, angkutan ini telah mengalami beberapa perkembangan yang terbilang sangat pesat, diantaranya jumlah penumpang yang semakin meningkat di tiap tahun nya. Seiring dengan peningkatan jumlah penumpang KRL, PT KCJ telah membuat beberapa kebijakan diantara nya penambahan jadwal keberangkatan, penambahan rangkaian kereta dan pemanjangan peron di beberapa stasiun. Namun, seiring berjalan nya waktu, masih ada permasalahan rutin yang dialami oleh seluruh penumpang KRL, yaitu Keterlambatan kereta. Lalu, apa penyebab keterlambatan tersebut?

    Banyak hal yang terjadi pada setiap perjalanan KRL setiap hari nya, diantaranya adalah keterlambatan waktu tiba kereta. Tentu kita mengetahui bahwa kereta mempunyai jalur khusus dan lalu lintas kereta diatur sedemikian rupa agar meminimalisir angka kecelakaan. Lantas, apakah itu penyebab keterlambatan waktu datang nya kereta? Belum tentu. Mengapa? Karena masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi keterlambatan kereta. Apa saja? Diantaranya :
  • Gangguan Sinyal Lalu Lintas
  • Gangguan LAA (Listrik Aliran Atas)
  • Rel Patah/Retak dan Gangguan wesel
  • Antrian masuk stasiun besar/stasiun transit
  • Jalur kereta yang bersinggungan dengan Kereta Jarak Jauh
  • Penumpang yang memaksakan diri untuk masuk di gerbong penuh penumpang
Gangguan Sinyal Lalu Lintas
Ilustrasi :Lokasi : Jalur 4-5 Sta.Jatiegara

       Ya, ini adalah salah satu faktor penting akan kelancaran lalu lintas kereta agar angka kecelakaan dapat diminimalisir. Jika persinyalan berjalan dengan baik maka perjalanan kereta juga tidak akan ada masalah. Tetapi, jika persinyalan sedang mengalami gangguan tentu akan menghambat perjalanan kereta. Biasanya hal ini terjadi saat mengalami cuaca buruk, seperti hujan disertai petir, atau dalam sistem persinyalan mengalami error system/crash, human error , dll. Jika persinyalan mengalami gangguan maka tentu pihak teknisi akan langsung cepat tanggap untuk membetulkan sinyal yang mengalami gangguan tersebut agar perjalanan normal kembali.

Gangguan LAA(Listrik Aliran Atas)
Ilustrasi : LAA Sta. Juanda

       Gangguan ini adalah gangguan pada sumber listrik yang merupakan sumber energi kereta listrik yang digunakan. Tentunya jika tidak ada aliran  listrik kereta pun tidak dapat berjalan. Seperti hal nya pada gangguan listrik aliran atas (LAA), maka aliran listrik akan distop untuk sementara waktu jika terjadi gangguan. Nah bagaimana jika ada kereta yang sedang melintas? ya mau gak mau harus menunggu, apalagi kalau sedang dalam perjalanan. Biasanya gangguan ini terjadi di gardu induk atau di kabel LAA sepanjang jalur KRL dan penyebabnya pun bermacam-macam.

Rel Patah/Retak dan Gangguan Wesel
Ilustrasi : Wesel Sta. Bogor
       Insiden rel patah/retak tentu saja dapat mengganggu perjalanan kereta yang melintas. Hal ini disebabkan karena umur rel yang sudah tua atau kerusakan pada sambungan las yang menghubungkan antar rel dan bisa juga karena bencana alam. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, kejadian ini lebih sering terjadi di Jalur Tanah Abang-Maja.

      Untuk Gangguan wesel lebih sering terjadi pada stasiun percabangan antar rel. Wesel yang dimaksud disini adalah wesel kereta yaitu konstruksi rel kereta api yang bercabang (bersimpangan) tempat memindahkan jurusan jalan kereta api. Gangguan yang biasa terjadi pada wesel ini yaitu sering terjadi kecelakaan dalam bentuk anjlokan, yang biasanya terjadi karena wesel tidak berfungsi dengan baik karena keausan pisau wesel, motor penggerak wesel tidak bekerja sempurna ataupun terganjal oleh benda asing, di samping itu biasanya ada batas kecepatan untuk melalui wesel yang diabaikan oleh masinis. Dan juga wesel merupakan tempat yang mudah untuk disabotase karena dengan menempatkan batu atau benda logam tertentu di antara rel yang bergerak dapat mengakibatkan wesel tidak berfungsi. Oleh karena itu perlu diawasi secara reguler.

Antrian masuk stasiun besar/stasiun transit
Ilustrasi : Pantauan Sta. Manggarai melalui InfoKRL

       Ini adalah salah satu hal yang setiap hari terjadi, terutama pada saat Pagi dan Sore hari. Biasanya antrian ini lebih sering terjadi di stasiun besar/satsiun transit. Ini terjadi karena adanya kereta yang menumpuk saat akan masuk ke sebuah stasiun atau di stasiun tersebut masih terdapat kereta yang belum diberangkatkan. 

Jalur kereta yang bersinggungan dengan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ)
KAJJ Eksekutif melintas Sta. Manggarai dari Sta. Gambir
       Salah satu penyebab lainnya adalah jalur kereta yang masih bersinggungan dengan KAJJ. Hal ini lebih dirasakan pada jalur Bekasi-Jakarta Kota, Jatinegara-Kp.Bandan, Manggarai-Jakarta Kota dan Maja-Tn.Abang-Angke. Jalur-jalur tersebut memang masih bersinggungan dengan KAJJ, sehingga jadwal perjalanan KRL sering terlambat. 

Penumpang yang memaksakan diri untuk masuk di gerbong penuh penumpang

Ilustrasi : Penumpang KA 1537 Bogor-Jatinegara di Sta. Manggarai

       Insiden ini mungkin hanya terjadi saat hari kerja, dimana para pekerja yang dari area sekitar bodetabek berbondong-bondong masuk wilayah Jakarta dalam 1 waktu yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang yang akan masuk ke dalam kereta. Tentu saja, dengan bertambahnya penumpang setiap tahun nya tidak sebanding dengan jumlah kereta yang tersedia, belum lagi saat adanya keterlambatan jadwal dimana para penumpang yang awalnya santai menunggu kereta menjadi terburu-buru agar tidak terlambat sampai kantor sehingga mereka memaksakan diri untuk masuk ke dalam kereta walaupun sudah penuh sesak.

Sekian, semoga bermanfaat ^_^

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Wesel